Peran Nikel Bagi Ekonomi Indonesia

Sifat multiguna Nikel membuatnya menjadi komoditas logam strategis. Nikel berpotensi menghasilkan nilai tambah yang sangat besar, bila dilakukan pengolahan di dalam negeri. Mengekspornya sebagai bahan mentah, menghilangkan banyak peluang yang dapat diperoleh.

Kementerian Geologi Amerika Serikat menghitung, dalam dua tahun terakhir produksi nikel Indonesia terus meningkat. Pada 2015, jumlah produksi nikel Tanah Air mencapai 130 ribu metrik ton. Naik sekitar 29 persen lebih pada 2016, menjadi 168.500 metrik ton.

Selain Indonesia, produksi nikel dunia juga banyak disumbangkan Filipina. Pada 2015 memproduksi nikel sebanyak 554 ribu metrik ton dan pada 2016 mencapai 500 ribu metrik ton. Kemudian disusul Rusia yang jumlah produksinya di bawah atau setengah dari produksi Filipina.

Menurut pelaku industri nikel Indonesia, Yudhi Santoso, logam jenis nikel adalah salah satu jenis logam masa depan. Apalagi dengan tingginya permintaan baja dunia dan berkembangnya teknologi baterai saat ini.

Menurutnya, investasi dan eksplorasi nikel di negara-negara Asia Tenggara cukup beralasan, lebih dari setengah kebutuhan nikel dunia diserap oleh Tiongkok. Selain itu juga terkait kualitas dan biaya produksi. 

Salah satu industri yang menjadi fokus pemerintah saat ini adalah pengembangan baterai lithium menggunakan raw mineral Indonesia yang kaya akan nikel dan kobalt sebagai dua bahan utama baterai EV.

Indonesia merupakan negara dengan cadangan bijih nikel terbesar di dunia, sekitar 32,7 persen. Australia berada di urutan kedua setelah Indonesia, yang memiliki 21,5 persen cadangan nikel dunia.

Berikutnya, menyusul Brazil dengan cadangan bijih nikel 12,4%. Kemudian Rusia, Kuba, Filipina, dan Afrika Selatan. Demi menjaga ketahanan cadangan mineral ini, pemerintah mengeluarkan kebijakan larangan ekspor bijih nikel dengan kadar 1,7 persen. Kebijakan ini mulai diberlakukan per Januari 2019.

Optimis di Masa Mendatang

Selain menjadi pemain utama dunia bahan baku baterai lithium, penggunaan kendaraan listrik juga berdampak pada pengurangan impor minyak karena berkurangnya kendaraan berbasis energi fosil.

Pemerintahan Presiden Joko Widodo terus mendorong hilirisasi nikel untuk meningkatkan nilai tambah.  Hilirisasi mineral yang digencarkan pemerintah dapat menjadi salah satu penopang ekonomi pasca pandemi.  

Sebagai produsen nikel nomor satu di dunia, Indonesia siap memasok industri baterai lithium-ion yang berkembang pesat dan semakin penting. Banyak daerah di Indonesia yang menjadi surga nikel, salah satunya adalah Sulawesi Tenggara.

Di Kabupaten Konawe Utara juga terdapat aktivitas perusahaan tambang nikel yang cukup ramai. Kawasan tersebut biasa disebut di pulau Wawonii yang dipenuhi oleh kegiatan penambangan nikel oleh sejumlah perusahaan. Diketahui, perusahaan yang melakukan kegiatan pertambangan nikel di wilayah tersebut adalah PT Gema Kreasi Perdana. Perusahaan telah mampu menyumbang banyak lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.

Selain Sulawesi Tenggara, saat ini di Maluku utara, industri bahan baku baterai mobil listrik pertama yang tengah dibangun tepatnya di Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel).

-Sumber: lokadata

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*